Lampu Darurat

28 May

Kurang lebih lima bulan sudah saya menetap di Pematangsiantar. Salah satu kelebihan kota ini adalah listriknya yang kerap bak lampu disko, mati dan hidup sesukanya, berlangsung dalam hitungan jam-jam-an, tanpa pemberitahuan -___-

Ditengah lapar dan galau mati lampu, saya memutuskan membeli camilan malam di salah satu warung terdekat. Tidak jauh dari warung, samar-samar, terlihat dua orang ibu lanjut usia berbicang keras, khas logat batak, membahas seputar lampu darurat (emergency lamp).

(Bahasa daerah dalam terjemahan)

“…ini kiriman anak kita (anak-ta) yang dari Bandung. Lampu ini bisa menyala lama. ” dengan nada suara berbangga.

“berapa lama?” tanya ibu lainnya dengan nada takjub

“Pokoknya lama. Saya rasa bisa sampai 3 hari” jawabnya, membuat saya tersenyum simpul

“bah,,iya ya” sarat nada terkagum.” Tapi tidak begitu terangnya” lanjutnya

Ini bisa dibuat lebih terang. Seperti ini…” . Lama….sampai si ibu berhasil memosisikan lampu menjadi lebih terang. Kedua wajah kini terlihat lebih jelas, satu tersenyum bangga, satunya manggut-manggut takjub.

Saya tersenyum haru, menyadari sederhananya bentuk kebahagiaan dibalik lampu darurat. Ada perhatian dan rasa sayang ananda nun jauh disana. Ada kerinduan dan kebanggan ibunda disini, menceritakan perhatian ananda yang tak ternilai harganya.

Rechargeable Emergency Lamp

Rechargeable Emergency Lamp

Sambil berlalu berpoles senyum bahagia, dengan langkah sengaja diperlambat, sayup-sayup saya mendengar obrolan keduanya berlanjut, masih seputar topik lampu darurat, seperti “ini bisa lagi di isi battere nya (chargeable.red)”

Maka terkhusus untuk ananda nun jauh disana,, sudahkah mengirimkan ” lampu darurat”?

Salam Bercahaya,
Mayakhohoho

Karena Kini…

27 May

Malam kemarin begitu dingin dan kelam, saat tiba-tiba dari kejauhan terdengar deru ambulans, meraung nyaring mengabari semua orang sekitar. “Ah,dia yang dalam balutan formalin sudah tiba”, pikirku. Seorang ibu tetangga rumah, meninggal karena sakit yang dideritanya.

Lebih kurang 2 bulan sudah dia terbaring lemah di rumah sakit akibat penyakit liver akut. Seorang wanita karir, terkenal aktif dan vokal dengan senyum seribunya. Tentu saja kematiannya membuat masyarakat sekitar, kerabat dan sanak saudara merasa kaget. “Tidak menyangka” demikian kata beberapa orang; “Sakitnya masih baru” demikian kata yang lain.

Dalam suasana berbagi duka bersama kerabat lainnya, hati saya trenyuh dalam jerit dan isak tangis keluarga yang berduka. Saya yakin, kami semua tahu betul bahwa akhir hidup semua manusia di dunia tentu kematian. Meski demikian, duka tak terbendung bercampur amarah—entah pada diri sendiri, dia yang pergi atau penguasa— terasa jelas.

(Bahasa daerah dalam terjemahan)
“….kenapa sekarang sahabat? (menangis histeris) aku belum sempat menjenguk selama sakit, menunda-nunda karena sibuk (menepuk-nepuk dada),. Kenapa sahabat, kenapa kamu harus pergi sekarang?” jerit sesal sahabat

kakak..kita kan berjanji akan pergi berlibur, berwisata kesana dan kesini. Katamu si sulung sudah bekerja di Jakarta. Belum jadi kita kesana kak…” tangis sesal adik

mengapa pergi secepat ini, kak?? tanya lainnya.

Jerit tangis itu tentu tak berbalas, karena kini, dia sudah terbujur kaku.
Tanya pun tak akan pernah terjawab, karena kini, dia sudah pergi.

Ah…ya. Hidup dan mati sungguh dekat, hidup sedemikian singkat. Dalam duka dan sesal para pelayat yang hadir, saya diingatkan (kembali), bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir. Pada akhirnya, menikmati dan mensyukuri kekinian adalah pilihan terbaik. Lalu, mengapa harus menunda menyatakan dan menunjukkan kasih? Mengapa tidak menikmati hidup (value life) sekarang, saat ini,  bersama dia dan mereka yang kita cintai?

Karena Kini. Pic taken from mackayhannah.com

Karena Kini. Pic taken from mackayhannah.com

Karena kini saatnya; karena kini itu hadiah; karena kini tidak akan berubah menjadi kemarin; dan karena kini kita bisa merubah sesal di kemudian hari.

Salam Kasih dari sini,
Mayakhoho

Balada Sungut-Sungut

24 May

Ingin tahu bagaimana rasanya menularkan penyakit “keluh kesah” atau “sungut-sungut”? Coba lakukan percobaan berikut!

Dekatilah seorang (siapa saja), lalu mulailah berkeluh kesah tentang satu atau dua topik di dekatnya. Dijamin, keluhan anda akan menular saat itu juga. Bahkan sangat mungkin berkembang ke hal-hal lain.

Sore tadi, saat ayah saya tengah asik-asiknya menyantap suguhan sore, saya membaca dengan santai tidak jauh darinya, sambil menikmati aroma karbol di lantai rumah yang baru saja dibersihkan. Aroma itu sangat menyengat, sedemikian harum buat saya, tapi mungkin tidak untuk sebagian orang. Iseng bereksperimen, saya kemudian berkata dengan nada sungut-sungut, “ah, aroma lantai ini, ga enak”.  Tidak sampai hitungan lima detik, ayah saya yang sedang tertawa dengan tontontan sorenya segera menyahut dengan nada dan riak sungut diwajahnya, “iya, cckk, kok kayak gini ya dibeli aromanya. Kayak ga ada aroma lain!!😦 ”.

Tentu saja, keluhan ayah saya sore itu disponsori oleh rasa tidak suka alamiahnya pada aroma karbol. Tapi, aroma itu sudah menyebar lebih dari 30 puluh menit, saat dia dengan asyiknya menyantap cemilan dan tertawa terbahak. Reaksi keluh-kesah hadir terlambat dan sangat mungkin tidak akan keluar jika saya tidak memasang picu sungut-sungut.

Kramer, Guilory, dan Hancock (2014), dalam suatu jurnal ilmiah PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences) pernah melakukan penelitian yang kurang lebih sama dengan eksperimen kecil-kecilan saya. Mereka melakukan penelitian bagaimana emosi (negatif dan positif) dapat dengan mudah ditularkan, tanpa disadari, melalui ekspresi emosi verbal di media sosial. Sederhananya, ketika semakin banyak orang berkomentar negatif, secara masif pula orang-orang menanggapi hal terkait topik secara negatif; sebaliknya, ketika semakin banyak orang berkomentar positif, secara masif orang-orang menanggapi hal terkait topik secara positif.

Sungut-Sungut. Pic taken from www.ft.com

Sungut-Sungut. Pic taken from http://www.ft.com

Rasanya, saya tidak perlu panjang lebar mengaitkan dan memaknakan hasil eksperimen ini pada kehidupan kita sehari-hari. Kita terlalu pintar untuk itu. Satu hal yang pasti, jika kita menginginkan lingkungan kita sehat (mental/psikologis), maka terbarkan kalimat-kalimat positif yang membangun dan minimalisir/nafikan sungut-sungut.

Selamat mengumbar kata-kata positif!

Salam anti sungut-sungut
Mayakhohoho

Helm

21 May

Helm. Biasanya oleh pengendara motor di daerah saya dipakai karena “takut” polisi. Ini tentu bukan asumsi bodong, karena lebih dari hitungan jari, orang yang saya minta memakai helm akan menjawab “ga perlu, toh gada polisi”.
Kalau mau jujur sedikit, beberapa alasan memakai helm bisa jadi karena tidak mau rugi/ terkena denda tilang (slip merah biru) aparat kepolisian yg bertugas. Jika tidak ingin rugi berkepanjangan (baca: repot berurusan dengan polisi dan hukum) beberapa puluh ribu pun dikeluarkan dengan rela dan mulus ke kantong oknum petugas. Di kemudian hari, dengan semangat pembela keadilan, dia berkata “polisi gada yang bener”, bahwa “polisi nyari setoran”, bahwa “polisi tukang palak”, membentuk barisan pembenci polisi, seakan lupa, kalau dirinya pun bersalah, mengejar setoran (baca:waktu) dan memalak undang-undang.
Lalu, beberapa orang lainnya tidak memakai helm dengan alasan lokasi yang dituju dekat, seolah jarak akan merubah aspal menjadi kasur. Atau enggan karna akan merusak pesona indah rambut.

image

Helm (pic taken from clipartpanda)

Ahhh,  andai saja semua orang MENGHARGAI DIRINYA,  maka helm akan kembali pada fungsi sejatinya: pelindung kepala dari benturan (KBBI). Helm dicipta untuk menjaga anda, saya, orang-orang terkasih kita, pengendara pun penumpang sepeda motor dari kemungkinan adanya cidera otak (kepala) akibat kecelakaan motor yang tak terhindarkan. Sesederhana itu.

Lalu kenapa kita harus memakai helm karena alasan polisi, tilang dan jarak dekat? Bukankah kita dan orang terkasih lebih berharga dari semua itu?

Salam,
Mayakhohoho
*ditulis pasca kematian teman akibat cidera kepala karena kecelakaan motor. Tanpa helm😦

Struk Belanja

8 Feb

Di salah satu Indomaret dekat rumah di Kota Pematangsiantar, malam ini:

Mba Indomaret : Total belanjanya kakak Rp. 57rb
Saya                : (menyodorkan uang 100rb)
Mba Indomaret : (mengembalikan uang belanja saya tanpa struk)
Saya                 : Struk belanja saya mana mba?
Mba Indomaret : (gagap) oh…sebentar (memprint struk). Oh iya, ternyata kakak dapet diskon Rp.11.500 (menyerahkan cash Rp.11.500).
Saya                : (mengerutkan kening) kok bisa?
Mba Indomaret : dari sini dan sini. Hitung sendiri saja kak nanti. (gelagapan)
Saya               : !@@#$%%^&&

Karena saya sedang terburu-buru membawa pesanan ayah saya, saya pulang dengan rasa curiga dan kesal. Dari bahasa tubuhnya, terlihat intensi/niat menipu konsumen.

Setiba dirumah, saya lalu mengecek ulang belanja saya dan menemukan beberapa keganjilan. Di struk belanja saya terdapat potongan struk belanja konsumen lain yang mendapat diskon tapi (asumsi saya) tidak mengetahui/mendapatkannya. Di dalam list yang sama juga terdapat bonus dari rangkaian belanja. Dan diskon total sebesar Rp.11.500 sebelumnya bukan hak saya, karena bonus Rp.7400 seyogiyanya milik pembeli sebelum saya.
Jelas nominal diskon yang saya sebutkan diatas besar untuk ukuran minimarket. Katakan jika dalam satu hari seorang mendapat potongan hampir seribu, bayangkan jika 100 orang, lalu sebulan. Saya sudah berniat besar melaporkan ini ke pihak Indomaret. Tapi kemudian saya mengurungkan niat. Kalo boleh jujur, ditengah sulitnya mencari pekerjaan, saya tidak ingin dia dipecat. Tapi saya juga tidak ingin perilaku yang sama terulang.

Struk belanja Indomaret Saya

Struk belanja Indomaret Saya

Singkat cerita, saya lalu mendatangi Indomaret tersebut dan meminta penjelasan dari mba kasir yang cantik jelita. Dengan gemetar, ia mengakui kesalahannya, meminta maaf dan meminta saya tidak melaporkannya. Setelah mengembalikan Rp.7400 yang bukan hak saya, saya menegurnya kembali dengan tegas. Kepadanya saya katakan bahwa jika saya mendengar ada konsumen tidak mendapatkan struk belanja atau ada keluhan sejenis, saya akan melaporkannya tanpa berfikir dua kali.

Maka lagi dan lagii,,
Saat beberlanja dengan jumlah besar atau kecil di mini market dan supermarket, MINTA lah struk belanja anda dan PERIKSA kembali daftar belanja anda. Karena sikap cuek dan “ah sudahlah” anda tidak akan pernah mendidik orang untuk merevolusi mental (korupsi)-nya.

Salam,
Mayakhohoho

Healer ya..

10 Jan

And There it goes..what a beatifull scene compilation

credit to loveadagios

Nah,,, its not my eternal love (show). But Healer sure ruins the other show, not to mention Dr.Frosty hair, for me. Like TOTALLY ruins any other show. I can’t even make myself watch other on-air dramas for it becomes ultimate zero interest. My mind keeps going back and forth to Healer.

I was (pretty sure) caught in a snare of Healer’s trap, going gaga over the cast, head over heels. Catching up Monday and Tuesday suddenly become ages. Thanks dramamom I’ve got Healer ruined me support group on dramabeans and Healer soompiers fellow to resist another week. Ha.

Healer

Credits: Fanderay Dramabeans

Healer ya,,this withdrawl lady is all for you. Save me with a good show, till (o)ur last public frequency slot. 10 eps to go. Yayyy!

Curhat Kemerdekaan

17 Aug

Merdeka!! Merdeka!!

Menarik, ketika kata itu diucapkan berulang-ulang secara langsung atau melalui status terupdate di media sosial. Semakin menarik saat disertai serangkaian kegiatan ala tujuh belasan, seperti, sebut saja upacara ala anak sekolahan dan pejabat/pegawai pemerintahan, pertandingan dan lomba ala masyarakat desa-kota atau bahkan perayaan lewat jelajah bumi pertiwi ala traveler seperti teman saya yang selalu sukses bikin iri tingkat dewa. Perayaan ulangtahun Indonesia yang kali ini jatuh di hari minggu pun membuat suasana ibadah di gereja saya terasa lebih nasionalis.

Meski tahun ini saya merayakan kemerdekaan dengan lebih pasif, tanpa acara WAH dan HAH atau upacara khusus, riuh kemerdekaan itu tetap terasa di hati. Bisa melihat upacara nasional dan menonton liputan masyarakat bergembira di berbagai daerah lewat layar kaca menjadi kegembariaan tersendiri bagi saya. Terlebih karena akhir-akhir ini, tayangan dari kotak bersuara itu lebih banyak dihiasi drama-drama persidangan dewan kehormatan.

Sebenernya, kemerdekaan seperti apa yang kita rayakan?
Rasanya tidak perlu bercerita panjang lebar bagaimana proses perjuangan bangsa sampai pada kemerdekaan. Selama duduk dibangku sekolah, kita dijejali sejarah-sejarah perjuangan pahlawan bangsa  membela dan memperjuangkan kemerdekaan bermodal sebilah bambu runcing. Kisah-kisah heroik dari seluruh penjuru daerah (Sisingamangaraja, Cut Nyak Dien, Diponegoro, dll) melawan penjajahan bangsa asing selalu membuat kita terkagum-kagum.

Kemerdekaan sebagai negara yang berdaulat boleh jadi sudah kita miliki. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah cita-cita berdaulat dari sebuah kemerdekaan berbangsa sudah benar-benar tercapai? Sudahkah cita-cita bangsa sebagai bangsa yang benar-benar berdaulat kita miliki? Ah ya ya,,,pertanyaan ini terdengar terlalu klise dan cakupannya terlalu luas. Plus terlalu ala komentator politik.

Mari menyederhanakannya.
Jika boleh diganti dengan pertanyaan yang lebih praktikal, maka pertanyaannya mungkin “Sudahkah penjajahan benar-benar dihapuskan?”
Masih terlalu luas? Bagaimana dengan … sebagai anggota masyarakat, “Sudahkah kita memerdekakan hak-hak orang lain?”
Semisal, jika saya pendidik,”Sudahkah saya memberikan hak pendidikan layak bagi anak didik saya?”
Jika saya pemakai jalan, “Sudahkah saya memberikan hak bagi pemakai jalan lainnya (instead ex.mengabaikan rambu lampu, berhenti tepat di zebra cross, memakai bahu jalan dan menggunakan kaki lima berjualan, atau menggunakan jalur kendaraan khusus sesukanya)?”
Jika saya pelayan masyarakat, “Sudahkah saya memberikan pelayanan tanpa ‘vulus’ agar mulus?”
Jika saya pelajar, “Sudahkah saya bertanggungjawab pada pendidikan yang diberikan atau masih terlalu sibuk galau?”

Betapa indahnya jika kemerdekaan dihayati lebih dari sekedar perayaan tahunan melainkan perayaan bermakna sepanjang negara kita berdiri. Sebagai warga masyarakat kecil, saya berdoa agar diberi hikmat dan dijauhkan dari peran utama penjajah di negeri sendiri, hingga pada akhirnya, kemerdekaan berbangsa saya bisa disebut kemerdekaan bernyawa, kemerdekaan yang memiliki jiwa ‘45.

Dirgahayu Indonesia! Pic taken from tabloidtekno.com

Dirgahayu Indonesia!
Pic taken from tabloidtekno.com

Salam Merdeka
Mayakhohoho

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 942 other followers